Masjid Tertua Ini Jadi Saksi Sejarah Berdirinya Kota Pontianak

0
126

Berdirinya kota Pontianak tidak terlepas dari nama Sultan Syarif Abdurrahman Alkadrie. Beliau adalah laki-laki yang berketurunan Arab yang merupakan anak dari seorang penyebar Islam di Jawa bernama Al Habib Husein. Enurut sejarah yang ada, setelah meninggalnya sang ayah, Syarif Abdurrahman meneruskan jejak ayahnya untuk menyiarkan Islam. Beliau pernah melakukan perjalanan mulai dari Mempawah dengan menyusuri Sungai terpanjang di Kalimantan yaitu Sungai Kapuas. Pada tanggal 23 Oktober 1771, Syarif Abdurrahman dan rombongannya berjumlah 14 perahu tiba di muara simpang Sungai Lndak dan Sungai Kapuas. Lalu mereka membuka hutan dengan menebasnya dan dijadikan pemukiman baru. Terdapat dua bangunan yang menjadi saksi sejarah yaitu didirikannya kerjaan dan kota Pontianak oleh Syarif Abdurrahman, serta masjid yang letaknya berseberangan dengan Istana Kesultanan Kadriah. Ketika Syarif Abdurrahman meninggal dunia pada 1808 Masehi, pembangunan masjidnya diteruskan putranya bernama Syarif Usman.

Kini masjid itu bernama Masjid Jami Pontianak atau Masjid Sultan Syarif Abdurrahman sebagai rasa penghormatan atas jasa-jasanya. Selain megahnya, masjid ini mempunyai sejarah yang menarik karena menjadi tanda didirikannya Kota Pontianak pada tahun 1771 Masehi. Masjid ini disekelilingnya terdapat pemukiman penduduk padat Kampung Beting, Dalam Bugis, dan pasar ikan yang mempunyai lahan sangat luas. Di bagian depan masjid sekaligus menghadap baratnya terdapat Sungai Kapuas yang terbentang. Meskipun ramai di sekitarnya, namun ketika di dalam masjid yang dirasakan adalah ketenangan.

Masjid yang bisa menampung 1500 jamaah ini memiliki arsitektur yang unik karena sebagian besar konstruksi bangunan terbuat dari kayu belian. Ketika memasukinya, terlihat sejumlah enam pilar terbuat dari kayu berlian dengan diameter 50cm di dalam masjid. Dan juga ada sejumlah enam tiang penyangga yang menjulang bentuknya bujur sangkar. Mulanya pada bagian atap dibuat dari rumbia, namun supaya lebih kuat serta tahan lama, rumbia ini diganti dengan kayu belian potongan yang ukurannya tipis. Atap masjid ini punya empat tingkat. Di tingkat kedua ada banyak jendela kaca kecil. Dan bagian teratas berbentuk stupa atau kuncup bunga.

Uniknya, mimbar tempat khutbah mirip dengan geladak kapal. Sisi kanan dan kirinya ada kaligrafi yang ditulis pada kayu plafon. Renovasi masjid ini tidak membuat bentuknya berubah, karena tetap mempertahankan gaya arsitektur kuno yang banyak mengandung nilai sejarah. Masjid ini banyak dikunjungi jamaah ketika shalat jum’at, shalat tarawih di bulan ramadhan, shalat ied pada hari besar muslim. Dekat dengan pusat kota membuat masjid ini mudah sekali untuk dikunjungi, dapat melalui jalur sungai maupun jalur darat.